Cerpen remaja
I'm not Playboy
Nama gue Alynskie Andrio Clark. Cukup panggil Alyns, atau bisa juga Lyns yang lebih simpel. Tapi jangan Clark atau Andrio. Kurang suka gue. Curhat dikit ya, Gue gak tau kenapa orang-orang disekolah gue itu, antusias banget kalau udah ngeliat gue. Gue sih sadar, kecakapan gue itu belum seberapa. Tapi kalau dibandingin sama V alias Kim Tae-Hyung atau Suga alias Min Yoon-Gi, sama rata kali' ya. Seimbang gitu? Iya, gak?
Selain kegagahan gue di atas standar, gue punya bakat nyanyi, jago main gitar, dan ahlinya nge-drum. Mungkin itu kali ya, cewe di Tarka itu pada nora' sama gue. Apa semenjak gue punya jabatan dimana seluruh dunia Tarka alias Taruna Karya harus kenal gue. Kalau gak, namanya akan di black-list dari daftar kewarganegaraan Tarka. Yah, gue menjabat sebagai ketua OSIS di sekolah gue, SMA Taruna Karya. Jadi ketua OSIS itu sebenarnya gak sulit-sulit amat kok, selagi masih bisa disiplin, bertanggung jawab dan memegang amanah. Tapi yang sulitnya itu, menghadapi demokrasi suara perempuan Indonesia kalau udah lihat gue di atas panggung apalagi kalau sedang nyanyi. Gak kebayang deh. Ribuan mereka, bakalan ngalahin suara gue yang merdu ini. Kayak lihat BTS aja mereka.
Gue bersyukur, meskipun di Indonesia kecakapan perempuan nya hanya dibawah rata-rata, tapi ada beberapa yang gue kenal masih memiliki wajah melebihi standar kecantikan wanita Indonesia. Kayak bidadari-bedadari surga gitu. Ingat ya, beda. Ngerti kan maksud gue? Pinter!
Salah satunya gue kenal Maora. Teman seangkatan tapi beda jurusan. Waktu itu dia kelas X IPS 3, kalau gue X IPA 2. Kalau gak salah tanggal lahirnya 28 Maret dengan zodiak Aries. Ingat kan gue. Gue mah gitu, asalkan manis, cantik orang nya. Gue langsung hafal sampe nama-nama mantannya. Daebak kan gue?
Gak nyangka perkenalan kita sungguh singkat sekali. Sempat sih jadian, habis itu gue putusin. Alasannya sih, biasa ya. Karena udah gak cocok lagi. Dia emang cantik, udah gitu periang, ceplas ceplos, tapi agak tomboi dikit. Jadi setelah putus dari ni anak, aku mau cari perempuan yang lebih kalem...,
Seperti yang ini.
Namanya Rawzel, kita sama-sama anggota OSIS namun dia dibidang Infokom waktu kelas satu dulu. Dia tu orang nya, Emhhh...(mikir), udah tentu cantik, terus pendiam, kalem, dewasa dan kharismatik lah. Gue rasa dia nih, cinta sejati gue. Gue jamin gue gak bakalan berpaling hati sama yang lain, karena ni cewe bikin gue nyaman banget. Gak butuh waktu lama, gue bisa dapatin dia. Namun dua Minggu kemudian gue putusin. Gegara tu cewe selingkuhin gue. Sumpah.... gue sakit hati banget.
Emang sih, gue pernah nyakitin hati cewe, si Maora, yang nangis gara-gara gak mau gue putusin. Tapi, ini kan jelas, gue putusin Maora karena gue bosen. Tapi, kalau ini mah status gue masih pacaran sama dia, kalau diselingkuhin kayak begini. Ampuuun, ni cewe keterlaluan banget. Awas aja, gue akan balas!
Gak lama dari itu, gue kenal sama teman kelas gue sendiri. Diantara kedua mantan aku, dia sih yang paling jelek. Eh, maksudnya, dibilang cantik, cantik juga. Tapi masih kurang. Gue juga gak tau, apanya yang kurang cantik, tapi secara pandangan lahiriah gue sih gitu.
Disinilah hubungan percintaan gue semakin rumit. Sebenarnya salah gue juga deketin dia sebagai pelampiasan. Gue terlalu terburu-buru buat balas dendam sama mantan gue yang sebelumnya. Terpaksa yang wajahnya pas-pasan gue gebet.
Gue gak nyangka. Cewe yang gue pacaran kali ini, malah jadi malapetaka buat karir gue sendiri. Banyak teman-teman gue, terutama kalangan cewe ngatain, "cewe Lo kampungan banget, sih. Lo kan keren, ketua OSIS, Lo juga leader dari ARGA band, udah gitu kaya lagi. Gak sepadan kali' sama dia". Awalnya gue tersenyum sinis aja nanggapin omongan mereka. Gue kan gak cinta-cinta amat kok sama tu cewe. Lagian mereka gak sadar diri apa? Cantik juga kagak, ngomongin orang juga.
Stefany Evodia Pradana. Gadis yang aku ceritain barusan itu biasanya dipanggil Stefany. Orangnya supel, ceria dan hidupnya slow slow aja. Pinter juga kurang, sifat dewasanya juga hampir mendekati Rawzel. Tapi, emang dasarnya aku dari awal gak ada rasa cinta, tibalah saatnya aku beralih perasaan pada yang lain. Seorang murid baru dikelas gue. Kebetulan cewe yang satu ini berbeda dari cewe-cewe yang aku kenal sebelumnya. Dia sangat cantik, parasnya ayu, lembut dan mempesona namun sayangnya sedikit pemalu. Iya, dia gadis yang pemalu.
Namanya Kaniza. Gue ingin banget kenalan sama dia. Saat aku panggil namanya, dia cuma tertunduk. Padahal aku cuma mau berkenalan saja kok. Belum sempat berhasil teman-teman gue pada jahil duluan. Mereka ngatain gue yang bukan-bukan. "Jangan mau Za, dia playboy". Begitu juga si Boby, "Dia udah punya pacar tuh, namanya Stefany."
Yaudah, gue cetus tuh kepala mereka satu-satu. Untung bercandanya saat kita masih di kantin. Jadi teman sekelas gue, terutama Stefany, gak dengar.
"Jangan dengerin mereka, ya. Stefany mantan gue, kok." Eps, gue pun menoyor jidat gue sendiri. Sumpah itu mulut gue emang lagi bocor. Sembarang nyelotos aja. Padahal waktu itu gue belum putus. Untung si cewe pemalu itu ninggalin gue secara cuma-cuma.
"Awas aja, gue pasti bisa dapatin Lo, girl!" Ucap gue diantara teman-teman gue yang lain.
Gue gak nyangka, akhirnya hubungan gue sama Stefany kandas saat gue berhasil pedekate-an sama cewe pemalu itu alias Kaniza. Stefany gue bikin sakit hati karenanya. Itu artinya, Gue berhasil membalas dendam sekaligus melampiaskan rasa sakit hati gue sama cewe. Gue gak peduli seberapa nangis darah Stefany gue bikin seperti itu.
Setelah gue merasa puas atas pembalasan itu, kini gue ingin serius sama cewe yang gue suka baru-baru ini, yaitu Kaniza. Gue jadian sama dia tepat gue dilantik jadi ketua OSIS. Gue ngerayain hari besar itu bersama dia dan teman-teman kelas gue tanpa gue peduli bahwasanya Stefani karena sakit hatinya tidak menghadiri perayaan itu. Padahal dia termasuk teman kelas gue.
Satu Minggu, hubungan kita aman-aman aja. Meskipun gue kadang merasa gak enakan sama Stefany atas hubungan ini. Tapi syukurnya, lama-kelamaan Stefany tampaknya sudah terbiasa melawati hari-harinya. Tidak ada lagi kesedihan. Meskipun kadang banyak teman yang sering manas-manasin dia dengan hubungan kita.
Memang, aku mendekati dia karena berniat balas dendam, namun aku juga merasakan bahwa dikhianati itu memang sakit banget.
Sebulan kemudian, hubungan aku dengan Kaniza baik-baik saja, dan senangnya lagi Stefany semakin dekat dengan kami, layaknya teman kelas. Dia seakan-akan menganggap tidak pernah terjadi apa-apa antara aku dengan dia. Entah mengapa akhir-akhir ini aku merasa dia itu cantik. Kalau ngomong soal pelajaran, masalah pribadi nyambung kalau udah cerita sama dia. Kok aku baru sadar sekarang? Dia berubah. Dia bisa mengontrol emosinya. Dia sangat profesional. Dia bisa membedakan tempat, perasaan dan pekerjaan.
Kenapa juga aku usilin dia mengirim chat dengan kata-kata, "Stefany, aku senang melihat mu baik-baik saja."
Aku yakin, Stefani gak akan membalasnya, karena mungkin saja dia ingin melupakan ku. Tapi, tidak lama dari itu, chat dari dia masuk. Ternyata dia membalasnya "Emang aku kenapa? Pasti dong, Stefany."bedengan tidak lupa juga beberapa emot orang ketawa.
Aku merasa senang sekali mendapati balasan yang meng-enjoykan seperti itu. Sampai chatan kami berlarut-larut hingga ketugas sekolah. Begitupun di sekolah, kami ngobrol seperti berteman biasa, seolah emang gak pernah terjadi apa-apa. Dia makin lama makin seru, nyambung dan semakin lucu. Mengingat saat ngerjain tugas kelompok. Melihat aksi konyol dia yang gak sengaja mukanya cemong saat mencari bahan di pasar.
"Aduuh... Kenapa aku keingat tu cewe?" Lagi-lagi aku menepik jidat sendiri.
Setahun pun berlalu. Ujian nasional berbasis komputer pun telah dilewati. Kini sekolah kami akan mengadakan farewell party. Dimana kita semua memakai baju batik seragam, berwarna hitam dengan motif batik tumbuhan yang berwarna kekuning-keemasan. Sedangkan bajunya berwarna kuning-agak keemasan.
Entah aku yang masa bodo', atau memang ini kali pertamanya, Baru kali ini aku melihat Stefany turun dari mobil Ferrari berwarna merah metalik. Sumpah, aku sampe lupa. Mikir berulang-ulang, biar gak salah orang. Ternyata memang benar. Gadis yang turun dari mobil itu enggak cantik tapi mempesona banget. Setelah melihatnya kali ini, aku baru sadar kenapa Stefany aku katakan teman dekat aku yang paling jelek, karena hanya dialah yang mempertahankan wajah alaminya bebas dari make up dan kosmetik.
"Sumpah gue nyesel memandang lo sebelah mata, nyesel pernah pura-pura mencintai lo karena dendam, nyesel pernah bikin Lo sakit hati, nyesel pernah bikin Lo nangis. Gadis sederhana dan apa adanya seperti Lo, pantasnya bahagia sama orang yang benar-benar tulus sama lo. Gue mencintai Lo Stef..." Itulah ungkapan yang terucap di atas puncak tertinggi di tarka ini. Iya, kami sedang menikmati pemandangan detik-detik terakhir kami di Tarka. Jujur, gue gak bisa nahan perasaan ini lebih lama lagi. Sebelum membiarkan nya pergi jauh untuk mengejar masa depannya di luar sana.
Aku tahu, dia pasti tidak akan pernah bersuara tentang masalah hati diantara kita. Diam mu adalah luka ku. Aku sadar, meskipun hubungan yang pernah terjadi diantara kita adalah kisah yang sudah terlewati, layaknya kisah anak remaja yang masih labil. Perasaan cintanya bisa berubah seiring waktu. Namun aku sadari, cinta mu dulu yang pernah ada untuk ku, tidak akan pernah berubah karena aku merasakan ketulusan mu terhadap ku. Maaf! Aku terlamabat membalas itu semua, disaat rasa yang serba salah.
Kemudian aku pun berterus-terang, "Tapi itu tidaklah mungkin, Kaniza sudah terlanjur mencintai gue. Apapun kekurangannya, gue pasti terima dia apa adanya. Aku pernah menyakiti orang yang pernah mencintai gue, dan gue gak mau mengulangi hal yang sama untuk kedua kalinya."
Aku tertunduk lesu. Semuanya telah aku sampaikan termasuk perasaanku yang ada padanya. Saat tangannya menepuk pundakku, aku tersadar. Itu lah sebenarnya yang ia inginkan. Melupakan masalalu dan menikmati artinya persahabatan saat masa terakhir sekolah.
Dan sampai sekarang aku masih ingat saat senyuman terakhir itu. Kau berikan sebagai salam perpisahan kita. "See you later, baby" ujar ku seorang diri dikamar yang sepi, seraya memandangi wajah cantikmu saat terakhir yang sempat aku foto. Aku tersenyum, dan berharap semoga kelak kita dipertemukan kembali Dengan rasa yang sama di waktu yang tepat, ya Tuhan tentukan.

Komentar
Posting Komentar